RIWAYAT / SEJARAH DESA TIGAWASA
Mengenai tentang sejarah Desa Tigawasa sudah tentu kita harus berupaya menggali fakta-fakta sejarah tentang desa yang dimaksud.
Fakta-fakta tersebut dapat berupa peninggalan tertulis/ lontar, prasasti maupun ceritera dan saksi sejarah.
Berpijak dari kerangka tersebut maka dalam memaparkan sejarah Desa Tigawasa, kami lebih berpijak pada ceritera tetua sebagai saksi sejarah dan selain peninggalan yang disesuaikan serta dikeramatkan . Berdasarkan fakta-fakta sejarah tersebut barulah dapat dipaparkan sejarah Desa Tigawasa.
Adapun Desa Tigawasa dari kota Singaraja dengan arah ke barat yang jaraknya ± 19 km sampai di Labuan Aji ( Ramayana ). Dari Labuan Aji ( Ramayana ) ke selatan dengan jarak ± 5 km, adapun letak Desa Tigawasa pada tanah landai di pegunungan, yang dari permukaan laut ± 500 s/d 700 m.
Desa Tigawasa mempunyai luas wilayah 1690 Ha dari pegunungan sampai ke pantai ( laut ) Tukad Cebol (kini Desa Kaliasem ) kampung Bunut Panggang, Bingin Banjah dan Kampung Labuan Aji adalah wilayah Desa Tigawasa. Dahulu ketika masih jaman penjajahan Belanda, kampung-kampung yang tersebut di atas itu semua diperintah oleh Perbekel Desa Tigawasa. Karena itu orang-orang penduduk kampung yang mempunyai tanah sawah, kebun, ladang dalam wilayah Desa Tigawasa kena tiga sana (sarining tahun) tiap-tiap tahun yang berupa uang atau padi, yang dijadikan kas pura, dan tiga sana padi disimpan di jineng sanghiyang (Lumbung) di Pura Desa.
Tetapi sejak Indonesia merdeka lalu wilayah Desa Tigawasa dibagi menjadi 5 (lima) yaitu :
1. Tigawasa ; 2. Tukad Cebol (Kaliasem) ; 3. Bunut Panggang, 4. Labuan Aji, 5. Bingin Banjah, itu semua dibawah Distrik (Kecamatan ) Banjar Kabupaten Buleleng. Sejak itu tidak lagi mereka dimintai tiga sana ,tetapi kalau ada saba (karya ) di Pura Segara atau di Pura Pawulungan, mereka ada juga yang maturan punia ke pura.
Asal-usul Desa Tigawasa belum dapat diketahui, masih dalam penyelidikan , tetapi yang nyata Desa Tigawasa adalah masuk Desa Purba (Bali Aga) karena banyak mengandung kepurbakalaan. Menurut Ilmu Bahasa, nama Desa itu terdiri dari kata majemuk yaitu tiga-wasa (wasa-bahasa kawi) artinya Banjar atau Desa.
Jadi nyata Desa Tigawasa terjadi dari 3 (tiga) Banjar : Banjar Sanda, banjar Pangus, Banjar Kuum Mungggah (Gunung sari).
Terbukti ada didapati benda-benda peninggalan manusia jaman purba di tiga tempat tersebut yaitu : di Banjar Sanda (Wani) Banjar Pangus dan Gunung Sar menurut perkiraan penduduk Desa Tigawasa, sejak jaman (Mulethicum) sudah ada manusia diam di sana terbukti adanya terdapat beberapa kapak batu halus di beberapa tempat di sana. Ada yang berwarna hitam kelabu dan putih. Masyarakat Desa Tigawasa menamainya gigin kilap, dianggap batu yang bertuah. Kalau ada padi yang kena hama penyakit lalu gigin kilap ini di rendam dengan air, kemudian air basuhannya itu dibawah ke gaga atau ke sawah di percikkannya pada tanaman. Berkat kepercayaan maka penyakit padi bias hilang, karena itu batu itu disakralkan. Mungkin sebelum itu sudah pernah ada manusia di sana yaitu pada jaman batu muda (Misilithicum) karena ada pada suatu tempat lubang besar ( kini sudah tertimbun) dikatakan itu adalah lubang raksasa, sampai sekarang disekitar tempat itu disebut Songsasa (Song Raksasa) lubang raksasa.
Setelah jaman batu muda sampailah pada jaman perunggu (Megalithicum) ini dapat dibuktikan ada terdapat beberapa benda peninggalan jaman purbakala tiga tempat yaitu : di Gunung sari (Kaum Munggah) di Pangus, di Wani (Suda). Di wani didapati oleh Jawatan Purbakala peti mati ( Sarkopah) dari batu cadas 3 (tiga) buah berisi tulang manusia, cincin, gelang perunggu, sepiral, manik-manik, besi tombak dan periuk kecil. Dibanjar Wani juga terdapat 12(dua belas) buah palungan batu cadas di sungai buah dapet, pada jaman itu tempat orang-orang mencelup benang atau kain dengan getah gintungan atau atas meja. Pada jaman itu orang sudah pandai ngantih atau membuat benang dari kapas.
Di Banjar Pangus terdapat 4 (empat) buah palungan dari batu cadas dan masih berisi air yang berwarna, di sebelah barat banjar Pangus di Pura Sanghiyang didapati selending ialah beberapa pasang gambelan dari perunggu yang disimpan di Pura Pamulungan (Beagung) sebagai benda sakral tempat didapati selending tersebut, dinamai sang selending juga dibanjar Pangus yang disebut dengan nama keroncongan pernah didapati keris dan besi kuning, juga di sebelah tenggara banjar Pangus yang disebut Pememan ada 4 (empat) buah sendi dan tumpuka batu cadas merupakan menhir, dan juga disana ada tanah putih di sana ada goresan-goresan tulisan atau gambaran. Di sebelah timur hutan pememan ialah Gunung sari, disini terdapat Lingga Yoni juga disebut taulan Lingga Yoni ini menunjukkan symbol Predana-Purusa dalam aliran siwaisme. Di sebelah udik munduk taulan terdapat 4 (empat) buah peti (Sarkopah) berisi tulang atau abu manusia, sepiral, ketis, cincin, gelang, manik-manik. Ada juga sebuah palungan tempat wadak (sapi hutan) minum dan juga terdapat keramik terserak dan sebuah arya pandita sedang grana sika atau memuja.
Menurut keterangan dari pada jawatan purbakala yang mengadakan penyelidikan dan pembongkaran sarkopah itu dikatakan benda-benda itu sedah berumur 2000 tahun lebih, didalam sarkopah itu banyak didapati logam , perunggu, besi, emas, tembaga manic-manik dan lain yang manuk kebudayaan Dengsen yang berasal dari Indocina (Tiongkok) tersebar di Indonesia.
Menurut sejarah nenek moyang bangas Indonesia berasal dari pegunungan Yaman di India belakang Tiongkok Selatan beralih sampai di Indonesia menyebar pada kepulauan Indonesia, sekelompok sampai di pulau Bali.
Diantara kelompok itu ada sekelompok kecil bermukim di Tigawasa, inilah yang disebut Balikuno. Mereka diam dipegunungan terutama dekat dimata air. Karena itu mereka disebut Bali Aga, artinya : pegunungan. Benda-benda yang telah didapatlah jawatan purbakala yang mengadakan penyelidikan, sampai sekarang masih disimpan di Gedung Jawatan Purbakala di Denpasar.
Demikian secara singkat dan sederhana dapat dipaparkan sejarah Desa Tigawasa.
SELAYANG PANDANG DESA TIGAWASA
I. Nama Desa :
Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kab.Buleleng
II. Visi dan Misi :
1. Meningkatkan partisipasi swadaya masyarakat dalam pembangunan baik dimasing-masing Banjar Dinas maupun Desa pada umumnya.
2. Mewujudkan Desa Tigawasa Yang yang Asri ( Aman, Sehat, Rapid an Indah ).
3. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ).
III. Luas Wilayah : 1.690 Ha
IV. Letak dan Batas-Batas Wilayah Desa
1. Letak Geografis
2. Batas-batas Desa :
Sebelah utara : Desa Temukus dan Kaliasem
Sebelah Selatan : Desa Pedawa
Sebelah Barat : Desa Cempaga
Sebelah Timur : Desa Kayu Putih Melaka
V. Jumlah Banjar Dinas : Terdiri dari 9 Banjar dinas
Nama Banjar Dinas :
1. Banjar Dinas Dauh Pura
2. Banjar Dinas Sanda
3. Banjar Dians Pangussari
4. Banjar Dinas Wanasari
5. Banjar Congkang
6. Dinas Dinas Gunung Anyar
7. Banjar Dinas Dangin pura
8. Banjar Dinas Umasedi
9. Banjar Dinas Konci
VI. Jumlah Penduduk : 5.161 Jiwa
Laki-laki : 2.571
Perempuan : 2.570
VII. Mata Pencaharian Penduduk :
Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Dagang dan Indutri Anyaman Bambu.
VIII. Organisasi Desa terdiri dari :
1. Subak Abian.
2. Karang Taruna.
3. Kelompok PKK
4. Sekaha Teruna-Teruni
5. Tani Ternak
IX. Potensi Desa yang di kembangkan :
Pertanian, Peternakan, Kerajinan Tangan
X. Sarana Pendididkan
1. TK : 1 buah ( TK Wira Kusuma Desa Tigawasa )
2. SD : 3 buah ( SD 1,SD 2, SD 3 Desa Tigawasa )
3. SMP : 1 buah ( SMP 1 Atap Negeri 2 Banjar )
4. Paket C : 1 buah ( Paket c Desa Tigawasa ).
perbanyak tulisan mengenai sejarah nggih.. tp tyang ada mengganjal dengan istilah bali aga, bukannya bali aga itu adalah masyarakat yang diajak oleh rsi markendeya ke bali, sedangkan masyarakat sebelum itu disebut bali mula, nah masyarakat sekarang ini banyak keturunan dari majapahit
BalasHapus